Tampilkan postingan dengan label Berita Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Budaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juni 2011

Inilah Pidato B.J. Habibie yang Membuat Hadirin Terpukau

TEMPO Interaktif, Jakarta - Pidato mantan Presiden B.J. Habibie dalam peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni, mendapat apresiasi luar biasa. Saat berpidato di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua MPR Taufiq Kiemas, sejumlah mantan Wakil Presiden, serta pejabat lainnya di Gedung MPR, Rabu, 1 Juni 2011, Habibie membacakan pidatonya dengan berapi-api. Hadiri pun tampak terpukau.

Inilah isi pidato lengkap Habibie itu.

Selasa, 10 Mei 2011

Ulama Lebanon Puji Pancasila

                      Monumen Pancasila Sakti (istimewa)  
Kairo (ANTARA News) - Ulama Lebanon, Syeikh Ali Zainuddin menyatakan kekagumannya atas peran Pancasila dalam mempersatukan bangsa Indonesia yang beragam suku dan agama.

"Filsafat Pancasila sebagai panduan dan pedoman masyarakat sehingga mampu menciptakan kerukunan hidup umat dari berbagai latar belakang suku agama, budaya dan bahasa di Indonesia," kata Syeikh Zainuddin saat bertemu dengan Duta Besar RI untuk Lebanon, Dimas Samodra Rum di Shouf, ebelah timur Ibu Kota Beirut, Senin.

Minggu, 01 Mei 2011

Bangsa Ulat, Bangsa Kepompong


Kompas Sabtu, 21 Agustus 2010 | 03:27 WIB

M Alfan Alfian
Hingga usia kemerdekaannya yang ke-65, kita masih sering mendengar bahwa Indonesia bagaikan raksasa tidur (the sleeping giant).
Asumsi dasarnya adalah kita punya sumber daya alam yang melimpah, wilayah yang sangat luas, jumlah penduduk yang besar, keanekaragaman yang mengagumkan, serta segenap potensi lain, yang sayangnya belum tergarap secara optimal. Indonesia adalah raksasa yang kehadirannya disadari sejak kemerdekaannya. Tetapi, ironisnya, ia adalah raksasa yang sedang dan masih tertidur, dan seolah-olah tak ada kepastian kapan ia terbangun dan menunjukkan gigi.

Merdeka Milik Siapa?


Kompas, Jumat, 20 Agustus 2010 | 03:13 WIB

Ikrar Nusa Bhakti
Judul yang penulis serap dari topik berita sebuah stasiun televisi swasta di Jakarta ini sungguh menggelitik.
Tergambar dalam berita itu betapa ”manusia gerobak” berjejer di bilangan Pondok Indah, Jakarta. Gejala yang biasa terjadi saban Ramadhan! Mereka hidup susah di alam kemerdekaan yang kali ini rupanya sudah 65 tahun. Mereka juga masih menyimpan mimpi dapat hidup layak, tetapi tak kunjung jadi kenyataan.
Berita lain melaporkan masyarakat pada sebuah kampung nelayan di Sumatera Barat tak mau menaikkan bendera Merah Putih karena hidup mereka susah dan tak dapat perhatian pemerintah. Ada pula insiden di Manokwari, Papua Barat, saat pengibaran Merah Putih pada hari keramat 17 Agustus 2010: benderanya terbalik. Hanya insiden kecil memang, tetapi bikin kita menarik napas dalam-dalam.

Perlunya Strategi, Tak Cuma Ideologi Nasional


Kompas Kamis, 19 Agustus 2010 | 02:59 WIB

Chris Panggabean
Kekuasaan dan kedaulatan di dunia terbagi-bagi dalam entitas yang disebut dengan negara. Dunia boleh saja semakin terhubung, terasa rata, dan seperti tanpa batas, tetapi secara faktual apa pun yang berpindah di atas muka bumi ini akan terikat pada hukum suatu negara dan dikenai bea olehnya.
Negara merupakan batas imajinatif kontrak sosial suatu masyarakat yang disebut bangsa. Mewujudkan cita-cita kolektif merupakan raison d’etre sebuah negara, sekaligus tujuan pada dirinya. Negara adalah sebuah takaran akan seberapa banyak jumlah orang yang harus diupayakan kesejahteraannya dan sejauh apa wilayah yang harus dikelola keberlangsungannya.

Sabtu, 30 April 2011

Rasionalitas, Toleransi, dan Keragaman Budaya

Eko Wijayanto

Toleransi seakanakan menjadi penting hari-hari ini ketika kebinekaan bangsa terancam dan tercabik-cabik.
Kadar kekerasan yang kian masif membuat kita berpikir, sejauh mana toleransi berakar pada segenap jiwa warga negara. Sejauh mana warga negara sebagaimana diamanatkan konstitusi menjunjung tinggi setiap bentuk dan ekspresi kebudayaan sebagai khazanah bangsa.
Sering orang mendaku kebudayaannya lebih tinggi dibandingkan dengan kebudayaan orang lain. Kadang kala ukuran rasionalitasnya adalah kebudayaan tersebut mampu menumbuhkan toleransi di antara sesama, bahkan kebudayaan lain.

Wasiat Sultan HB IX tentang DIY Diungkap

Daerah Istimewa Yogyakarta

Minggu, 20 Februari 2011 | 19:21 WIB
 
DOK KEPUTAKAAN PRESIDEN Sri Sultan Hamengku Buwono IX bersama Bung Karno

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Mantan penulis pidato Sultan Hamengku Buwono IX, Sudomo Sunaryo, menuliskan sebuah buku yang mencoba mengungkapkan wasiat-wasiat dari Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yaitu Wasiat HB IX, Yogyakarta Kota Republik.
"Saya melayani Sri Sultan Hamengku Buwono IX selama 36 tahun dan saya diberi pesan khusus untuk memberi penjelasan tentang DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) kepada masyarakat luas," kata Sudomo dalam acara bedah buku di nDalem Yudonegaran Yogyakarta, Minggu (20/2/2011).

Menulis Buku, Meluruskan Sejarah

ATMAKUSUMAH
Menulis buku membuat saya ingat pada pendapat Gertrude Hartman dalam kata pengantar bukunya, Builders of the Old World, yang terbit tahun 1959.
Katanya, ”Menyebarkan fakta dan gagasan melalui buku, majalah, dan surat kabar adalah salah satu cara terkuat untuk belajar tentang kebenaran mengenai apa yang sedang terjadi di dunia. Kita harus tahu kebenaran, dan kebenaran akan membuat kita bebas.”
Akan tetapi, saya harus membedakan media pers cetak, seperti surat kabar dan majalah, dari buku walaupun sama-sama dapat menjadi sumber informasi bagi penelusuran sejarah.
Penyebabnya adalah tidak selamanya kita dapat diyakinkan oleh media pers tentang akurasi dan kebenaran pemberitaan dibandingkan dengan informasi dalam buku. Tingkat akurasi dan kebenaran pemberitaan pers sering bergantung pada situasi politik, kebebasan pers, serta kebebasan berekspresi dan menyatakan pendapat.

Telisik Dua Wajah Generasi Tionghoa


KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Perwakilan dari universitas peserta pameran pendidikan mancanegara memberikan keterangan kepada calon mahasiswa di Hotel Phoenix, Yogyakarta, Sabtu (15/1).
Bestian Nainggolan
Derasnya terpaan budaya global pada generasi muda Tionghoa menekan eksistensi tradisi leluhur yang diturunkan orangtua mereka. Apabila kesuksesan hidup sama-sama menjadi tujuan pencapaian dua generasi tersebut, masihkah perlu dikhawatirkan?
Bagi Hendry (52), kerusuhan Mei 1998, yang memakan banyak korban dari kalangan etnis Tionghoa, bisa menjadi langkah awal penentu masa depan anak-anaknya. Saat itu di Medan, demikian juga kota-kota besar lainnya, dalam suasana tidak menentu. Bergegas, anak-anaknya ia kirim keluar negeri. Singapura, Penang, dan Melbourne, tiga kota itulah yang selanjutnya menjadi pusat didikan dua dari ketiga anaknya, mulai dari bangku SMP hingga perkuliahan.

Ajaran dari "Tuan Kong"

FALSAFAH KONFUSIUS


KOMPAS/LASTI KURNIA
The Gwe Nio bersembahyang untuk keluarganya. Ritual ini selalu dilakukan saat perayaan Imlek, beberapa waktu lalu.
Pemimpin harus menjadi teladan yang baik. Masyarakat juga sebaliknya, harus menerima keberadaan pemimpin karena pimpinan itu ibarat titisan Tuhan dari surga. Ini adalah salah satu ajaran dari Konfusius, filsuf besar China dengan ajaran yang tersebar hingga ke Eropa dan AS bernama Konfusianisme.
Konfusius (Confucius-Barat) adalah kata Latin dari Kong Zia atau Kong Fuzi, atau Master Kong (Tuan Kong). Konfusius juga bisa berarti cerdik cendekia Kong.

Orang-orang Indonesia yang Terusir ke China

KEHIDUPAN


VALENT HARTADI
Sekumpulan anak yang bermain angklung ini bukan anak Indonesia. Mereka adalah generasi ketiga dan keempat warga China yang harus keluar dari Indonesia karena Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1959. Walaupun telah meninggalkan Indonesia puluhan tahun, mereka tetap cinta Indonesia dan bertekad untuk melestarikan budaya Indonesia untuk merekatkan persahabatan antara China dan Indonesia.

Spirit Kapitalistik dari Ruang Keluarga

BAMBANG SETIAWAN
Tak berbatas waktu, nilai-nilai tradisi leluhur tetap mengalir, diturunkan secara turun-temurun hingga generasi muda peranakan Tionghoa yang hidup di Indonesia saat ini. Benih-benih nilai tradisi itu, yang mungkin saja berasal dari ajaran-ajaran Konghucu (551-479 SM), seolah menemukan lahan yang subur untuk tetap hidup, justru ketika tekanan politik mengimpit mereka ke dalam ruang ketakutan.
Karakter yang muncul pada kelompok etnik Tionghoa di Indonesia merupakan perpaduan antara ajaran-ajaran leluhur dan situasi sosial politik yang dihadapi sebelumnya. Hidup dalam sorotan tajam pemerintah dan masyarakat membuat mereka harus mengamankan diri dengan memanfaatkan peluang sebaik mungkin. Penumpukan modal dengan bekerja keras dan hemat menjadi pilihan untuk mengatasi rasa tidak aman yang sering kali muncul.

Menduniakan Keindahan Kain Indonesia

Mary Hunt Kahlenberg

Kompas, Senin, 31 Januari 2011

KOMPAS/NINUK MARDIANA PAMBUDY
MARY HUNT KAHLENBERG
Ninuk Mardiana Pambudy
Sudah banyak buku ditulis mengenai tekstil Indonesia, tetapi kain Nusantara seperti sihir yang mendorong banyak orang terus menggali dan menuliskan tentangnya. Begitu juga dengan Mary Hunt Kahlenberg.
Dia memilih judul The Mary Hunt Kahlenberg Collection, Five Centuries of Indonesian Textiles (2010), karena di antara kain asli Nusantara koleksinya, terdapat tenun dari abad ke-15. Umumnya kurator dan kolektor kain skeptis terhadap kemampuan kain Nusantara bertahan ratusan tahun, karena dibuat lokal dan dikenakan sehari-hari, kain dapat diganti setiap saat begitu lapuk.
”Banyak orang meragukan kain asli Indonesia dapat bertahan dalam waktu panjang, mengingat udara yang panas dan lembap, serta cara penyimpanannya,” papar Kahlenberg di Museum Tekstil Jakarta, Desember lalu.

Tahun 2011 bagi Indonesia


Kompas, Senin, 3 Januari 2011 | 04:09 WIB

Oleh Ahmad Syafii Maarif
Sebagai negara kepulauan terpanjang di muka bumi dengan anak suku bangsa dan tradisi yang beragam dan sangat kompleks, kita patut bersyukur karena masih bisa bertahan dalam sebuah keutuhan entitas negara-bangsa. Memasuki dasawarsa kedua abad ke-21, berarti kita sedang membuka gawang tahun ke-66 dalam batang usia kemerdekaan kita yang dinyatakan pada 17 Agustus 1945.
Sebagian besar pendiri bangsa dan negara ini telah mendahului kita, tetapi ruh mereka pasti berseru agar kita semua tetap tidak melenceng dari cita-cita kemerdekaan yang dengan apik dirumuskan dalam Mukadimah UUD 1945. Apakah kita sudah melenceng atau masih berada di jalur yang benar adalah masalah mendasar yang perlu kita bicarakan secara jujur dan saksama. Wacana tentang masalah itu kini sedang merebak dalam masyarakat kita yang beragam itu.

Bangsa yang Haus Kebanggaan


Kompas, Jumat, 31 Desember 2010 | 05:22 WIB

Bagus Takwin
Berbangga sempat dialami Indonesia minggu-minggu lalu. Kemenangan-kemenangan Tim Nasional Garuda di Piala AFF 2010 jadi perangsangnya. Kebanggaan itu menyebar luas dengan daya besar, meletuskan euforia hampir di tiap lapisan masyarakat.
Banyak yang bisa dipelajari dari kebanggaan itu: makna kebanggaan, faktor dan pengaruhnya, gejala sosial-politik yang ditandainya, juga watak orangnya. Ia bisa bercerita banyak tentang situasi psikologis orang Indonesia.

SAPARDI Mempertanyakan Kebenaran


Kompas, Minggu, 12 Desember 2010 | 03:53 WIB

ilham khoiri
Sapardi Djoko Damono adalah sosok sastrawan Indonesia yang lengkap. Dia seorang penyair, pengamat sastra, dan pendidik yang tekun—bahkan sempat menjadi birokrat kampus. Lebih menarik lagi, hingga usianya yang ke-70 tahun, lelaki ini tetap aktif berkarya.
Sebagai penyair, Sapardi lebih dikenal lewat puisi-puisi yang bercorak liris. Puisinya dianggap mewakili pengelolaan pikiran dan perasaan yang mendalam. Diksinya sederhana, tetapi tajam; rumit sekaligus halus.
Hingga kini, karya-karya semacam itu terus lahir darinya. ”Saya terus menulis. Kalau tidak menulis, sepertinya ada sesuatu yang hilang. Praktis tiap hari saya di depan komputer, pokoknya tak-tuk, tak-tuk...,” katanya seraya memeragakan orang mengetik.

Harapan Baru Setelah Timah

Sejarah

Kompas, Minggu, 12 Desember 2010 | 03:55 WIB

Ilham Khoiri
Sejak abad ke-19 Masehi, Pulau Belitong didatangi banyak orang karena kandungan timahnya. Namun, ketika pamor bahan tambang ini kian merosot tahun 1990-an, kawasan di Bangka Belitung ini seakan ditelantarkan. Kini, lewat novel ”Laskar Pelangi,” muncul harapan baru.
Nama Belitong terkenal setelah Belanda mendirikan perusahaan pertambangan timah bernama Gemeenschappelijke Mijnbouwmaatschappij Billiton (GMB) tahun 1851. Perusahaan besar ini mendatangkan banyak pekerja dari berbagai kawasan di Nusantara, bahkan dari China. Mereka dikenal sebagai kuli kontrak.

Mimpi adalah Kunci

Mobilitas Sosial

Kompas, Minggu, 12 Desember 2010 | 03:58 WIB

 ilham khoiri
Mimpi adalah kunci/untuk kita/menaklukkan dunia/Berlarilah, tanpa lelah/Sampai engkau meraihnya.... (Nidji, ”Laskar Pelangi”)
Lirik lagu yang dinyanyikan Giring Ganesha dari grup Nidji itu mengingatkan kita pada semboyan lama: mimpi bisa mendorong siapa pun untuk meraih cita-cita. Semangat semacam ini sekarang telah dituai beberapa orang yang terlibat dalam novel dan film ”Laskar Pelangi”.
Perjalanan hidup Muslimah (59), seorang guru yang menjadi tokoh novel Laskar Pelangi, bisa menjadi contoh. Dalam buku, Bu Mus—begitu sapaannya—digambarkan sebagai pendidik yang berjuang dan menyemangati para siswa SD Muhammadiyah yang hidup kesusahan. Dirundung kekhawatiran gedung sekolah itu roboh atau bubar, perempuan itu tetap setia mengajar.
Setelah novel dan film Laskar Pelangi meledak, Muslimah masyhur dan ditempatkan sebagai salah satu ikon guru pejuang. Sekitar 20 penghargaan dari berbagai lembaga diterimanya. Di antaranya, Aisyah Award dari Muhammadiyah dan Satya Lencana yang diserahkan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
”Apa yang saya peroleh sekarang lebih dari apa yang saya mimpikan. Saya hanya beruntung karena sebenarnya banyak guru lain yang lebih berjasa,” katanya, akhir November lalu.
Muslimah kini juga langganan diundang untuk memberikan ceramah dalam berbagai diskusi atau seminar di banyak kota. Beberapa kali dia muncul dalam acara televisi atau radio. Semuanya meminta dia untuk berbagi pengalaman sebagai guru di daerah terpencil.
Banyak juga yang datang berkunjung ke rumah. Mereka penasaran ingin melihat langsung sosok guru itu. ”Pernah ada perempuan cantik dari Aceh yang datang memeluk saya sambil menangis. Katanya, terima kasih ibu telah memberi inspirasi kepada saya,” papar Muslimah yang sudah mengajar lebih dari 30 tahun.
Muslimah telah menjadi guru yang tenar. Meski begitu, perempuan ini tetap hidup bersahaja di rumahnya yang tak jauh dari Desa Linggang, Gantong, Belitong. SD Muhammadiyah seperti dalam novel itu tutup tahun 1991, tetapi spirit guru memberikan inspirasi bagi banyak orang.
Hal serupa dialami Zulfany Pasha (14), pemeran Ikal dalam film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Setelah sukses membintangi film itu, hidup siswa kelas I SMAN II Tanjung Pandan, Belitong, itu berubah. Tak hanya populer, remaja ini bahkan jadi semacam ikon anak kampung yang sukses di dunia film. Saat promosi film di beberapa kota, dia tampil bak selebriti yang dikerumuni remaja lain yang ingin sekadar berdekatan, minta tanda tangan, mencium, atau mencubitnya.
Lebih dari itu, dia senang karena bisa menjajal dunia film yang dulu seolah hanya milik orang kota dan tak terjangkau orang daerah. ”Senang bisa belajar kepada Mas Riri Riza dan Mbak Mira Lesmana. Siapa tahu, nanti bisa main film saat dewasa,” katanya.
Zulfany juga bahagia bisa membantu ekonomi keluarga dengan honor jutaan rupiah dari main film. Sebagian honor itu ditabung untuk kebutuhannya saat besar nanti.
Lebih kurang begitu juga pengalaman remaja lain yang bermain dalam film Laskar Pelangi. Sebut saja Verrys Yamarno (14) yang memerankan tokoh Mahar; Ferdian (15), pemeran Lintang; atau Levina (15) yang jadi gadis China, Aling. ”Gembira bisa bantu ekonomi keluarga,” kata Ferdian yang ayahnya, Iskandar, seorang buruh petambang timah.
Mobilitas
Perubahan yang dialami orang-orang lokal yang menembus pentas nasional itu memperlihatkan adanya mobilitas sosial. Bayangkan saja, keteladanan seorang guru sekolah di pulau kecil diapresiasi banyak orang. Anak-anak kampung yang sederhana, biasa keluyuran di bekas tambang timah, menjelma sebagai bintang film; sejajar dengan anak-anak kota yang necis, suka nongkrong di mal.
Mobilitas lebih besar bakal dialami para pemain film Laskar Pelangi beberapa tahun lagi. Selain honor main film, mereka juga mendapat beasiswa dari Miles Films sampai beres sekolah. Masuk kuliah nanti, mereka dijanjikan dapat beasiswa dari Pertamina hingga lulus jadi sarjana.
”Mungkin saya nanti akan pilih jurusan psikologi. Saya mau jadi psikolog,” kata Verrys Yamarno dengan bersemangat. Beberapa anak lain juga sudah mulai memikirkan jurusan di perguruan tinggi.
Ini menggembirakan. Setidaknya ada jaminan bahwa mereka nanti punya sokongan dana untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi. Modal ini sangat berarti bagi sebagian besar keluarga mereka yang umumnya berasal dari kalangan sederhana. Apalagi biaya kuliah sekarang kian mahal.
”Kalau tidak dapat beasiswa, saya belum tahu mau mencari dana dari mana untuk kuliah anak. Sebagian honor main film anak juga ditabung untuk menambah kebutuhan lain saat kuliah,” kata Hermanto (40), ayah Zulfany, seorang pedagang pakaian di Pasar Tanjung Pandan.
Setidaknya mereka tak harus kembali mengalami susahnya mendapat pendidikan sebagaimana anak-anak Laskar Pelangi dulu. Dengan kuliah, diharapkan mereka bisa lebih memberdayakan diri. Mereka berpotensi menjadi generasi baru yang lebih maju.
Inspirasi
Perubahan yang terjadi pada orang-orang Laskar Pelangi juga memendar pada masyarakat Belitong lain. Meski tak masuk sebagai tokoh novel atau ikut main film, sedikit banyak mereka juga merasakan pendaran semangat karya sastra itu.
Salah satunya Angga (11), siswa kelas V SDN 28 Gantong. Remaja ini tampak serius mengikuti karnaval dalam Festival Laskar Pelangi. ”Saya bangga dengan Laskar Pelangi dan saya ingin meniru semangat mereka,” katanya.
Sebenarnya spirit semacam ini tak hanya menyemangati masyarakat Bangka Belitung. Inspirasi untuk jangan menyerah dalam memperoleh pendidikan telah menjalar ke beberapa daerah lain di Nusantara yang kondisi pendidikannya malah mungkin lebih buruk lagi.
Agaknya energi dari Laskar Pelangi ini akan terus dikenang. Selama infrastruktur pendidikan di negeri ini masih lemah dan masih banyak warga kekurangan, kaum muda patut mengambil ilham dari novel itu agar tetap ngotot mewujudkan cita-citanya. Meminjam lirik lagu yang dinyanyikan Nidji, sebenarnya spirit Laskar Pelangi memang ”takkan terikat waktu”.

Laskar yang Mengubah Belitong

Kompas, Minggu, 12 Desember 2010 | 02:35 WIB
KOMPAS/ILHAM KHOIRI
Anak-anak sekolah berbaris saat peresmian SD Pelangi di sebuah bukit bekas penambangan timah di Desa Linggang, Kecamatan Gantong, Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung, akhir November lalu.
Ilham Khoiri
Bisakah karya sastra mengubah masyarakat? Tengok saja Pulau Belitong, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Novel ”Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata, yang mengisahkan perjuangan anak-anak kampung untuk bersekolah di pulau itu, ternyata bisa memicu kegairahan baru.
Puluhan orang berbondong- bondong mendatangi sebuah bukit bekas penambangan timah di Desa Linggang, Kecamatan Gantong, Kabupaten Belitung Timur. Di situ, ada bangunan sekolah dari kayu yang doyong. Bagian kanannya disangga batang kayu.