Tampilkan postingan dengan label Berita Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Agustus 2019

Perpres 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah ditetapkan Presiden Joko Widodo pada tanggal 16 Maret 2018. Perpres 16 Tahun 2018 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah diundangkan Menkumham Yasonna H. Laoly dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 33, dan mulai berlaku pada tanggal 22 Maret 2018.

Sabtu, 14 Mei 2011

10 Pebisnis Terkuat di Asia (II)


Pebisnis terkuat di Asia kini bergeser dari sebelumnya didominasi Jepang beralih ke China.
Kamis, 21 April 2011, 12:17 WIB, Arinto Tri Wibowo, Syahid Latif
CEO Toyota Motor Corp, Akio Toyoda (AP Photo)
VIVAnews - Sejak pertama kali dipublikasikan pada 1995, Fortune 500, yang berisi daftar peringkat perusahaan dunia terbesar, selalu didominasi oleh profil perusahaan asal Amerika Serikat atau Jepang. Bahkan, jika daftar tersebut dipersempit, yakni mencakup chief executive officer (CEO) top dunia, pasti ada pemimpin perusahaan dari Sony, Mitsubishi, dan Toyota.

Dalam laporan 25 pebisnis terkuat Asia yang dikutip VIVAnews.com dari money.cnn.com, ditemukan adanya pergeseran pebisnis terkuat di wilayah Asia dari sebelumnya didominasi Jepang, beralih ke China, India, dan wilayah Asia lainnya.

Memang, dalam daftar ini, CEO Toyota, Akio Toyoda, masih berada sebagai pebisnis terkuat di Asia. Namun, jumlah pebisnis Jepang yang masuk dalam daftar ini hanya berjumlah dua orang, di luar CEO Toyota.

10 Pebisnis Terkuat di Asia (I)

Pebisnis terkuat Asia bergeser dari sebelumnya didominasi Jepang, beralih ke China.
Kamis, 21 April 2011, 06:31 WIB, Syahid Latif
Kantor Goldman Sachs di New York (AP Photo/Mark Lennihan)
VIVAnews - Sejak pertama kali dipublikasikan pada 1995, Fortune 500, yang berisi daftar peringkat perusahaan dunia terbesar, selalu didominasi oleh perusahaan asal Amerika Serikat atau Jepang. Bahkan, jika daftar tersebut dipersempit menjadi chief executive officer (CEO) top dunia, pasti akan ada pemimpin perusahaan dari Sony, Mitsubishi, dan Toyota.

Dalam laporan 25 pebisnis terkuat Asia yang dikutip VIVAnews.com dari money.cnn.com, ditemukan adanya pergeseran pebisnis terkuat di wilayah Asia dari sebelumnya didominasi Jepang beralih ke China, India, dan wilayah Asia lainnya.

Memang, dalam daftar ini, CEO Toyota, Akio Toyoda, masih tercatat sebagai pebisnis terkuat di Asia. Namun, jumlah pebisnis Jepang yang masuk dalam daftar ini hanya dua orang, di luar CEO Toyota.

5 Perusahaan Besar Muncul dari Ide Sederhana


Kunjungan Obama ke Kantor Facebook (AP Photo/Pablo Martinez Monsivais)


Sebuah ide sederhana terkadang bisa menjadi dasar berdirinya perusahaan raksasa.
____________________________________
VIVAnews - Seringkali masih ada pemikiran di masyarakat yang menganggap sebuah perusahaan besar tercipta dari ide-ide yang rumit. Padahal, tidak seluruh anggapan tersebut benar.
Saat ini, mulai banyak perusahaan besar yang sebenarnya dibangun dari ide-ide yang berbeda, dan awalnya seringkali dianggap tidak layak ataupun tidak praktis. Bahkan, sekarang jarang ditemui sebuah perusahaan besar dimulai dari sebuah ide yang menjamin perusahaan ini menjadi raksasa pada masa mendatang.

BI : Waspadai Jaringan Sindikat di Lembaga Keuangan


Bank Indonesia (BI) (ilustrasi)
Jakarta (ANTARA News) - Bank Indonesia meminta perbankan dan lembaga keuangan lainnya mewaspadai maraknya jaringan sindikat pembobol dana yang semakin canggih operasinya.

"Dari berbagai kasus yang muncul belakangan ini, terlihat bahwa mereka adalah jaringan sindikat yang bergerak dengan sangat terencana dan dengan modus yang canggih," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Halim Alamsyah di Jakarta, Kamis.

Menurutnya, sindikat tersebut seperti yang beraksi di Bank Mega menggunakan modus memakai perusahaan BUMN dan Pemerintah Daerah, dimana kasus itu dapat diungkap dari sisi tindak pidana korupsi dan tindak pidana perbankan.

Senin, 09 Mei 2011

Dosa Perencana Pembangunan

Oleh Bagong Suyanto 
Terlepas dari cara dan pilihan kalimat yang mungkin terkesan keras, apa yang dikemukakan para tokoh itu sebetulnya mencoba mengajak pemerintah untuk tidak terlalu larut dalam indikator makro pembangunan yang acap kali kurang memerhatikan realitas di tingkat mikro.
Mahbub ul Haq (1983), salah seorang ahli kemiskinan dari kubu teori ketergantungan, jauh-jauh hari telah mengingatkan, betapa bahayanya jika para perencana pembangunan terlalu percaya dan memuja angka statistik, sebaliknya tidak peka pada isu-isu dan persoalan nyata masyarakat miskin sehari-hari.
Ketika pemerintah atau negara mengklaim telah berhasil menghela laju pertumbuhan ekonomi dan asyik menghitung tingkat penanaman modal, biasanya yang dilupakan adalah apakah arus investasi yang masuk itu dipergunakan untuk kegiatan industri yang ramah tenaga kerja lokal atau tidak?

Sabtu, 07 Mei 2011

Jakarta Kian Sesak

Kompas, Rabu, 29 September 2010 | 03:12 WIB

Tommy Firman
Hasil sementara Sensus Penduduk 2010 menunjukkan bahwa jumlah penduduk DKI Jakarta telah mencapai 9,6 juta jiwa dengan laju kenaikan 1,39 persen per tahun dalam kurun 2000-2010.
Laju ini masih lebih rendah ketimbang laju pertambahan penduduk nasional 1,49 persen per tahun pada periode sama (BPS, 2010). Angka itu sesungguhnya sedikit mengejutkan sebab menurut Sensus Penduduk (SP) 1990 dan SP 2000, jumlah penduduk DKI Jakarta 8,2 juta dan 8,4 juta jiwa.
Laju pertambahan 2,39 persen per tahun (1980-1990) dan 0,16 persen per tahun (1990-2000). Berarti terjadi lonjakan laju kenaikan yang sangat signifikan dari 0,16 persen per tahun (1990-2000) menjadi 1,49 persen per tahun (2000-2010). Dengan kondisi ini diperkirakan penduduk DKI Jakarta 11 juta jiwa pada 2020 (Kompas, 2/9).

Indonesia Lumbung Pangan Dunia?


Kompas, Jumat, 24 September 2010 | 03:49 WIB

Oleh Murniaty Santoso
Memperingati Hari Agraria atau Hari Tani Nasional, 24 September, sebagai anak bangsa kita bertanya, masihkah Indonesia disebut negara agraris mengingat negara ini masih mengimpor beras, kedelai, dan gandum dalam jumlah yang besar?
Sekalipun mi instan telah menjadi makanan pokok rakyat kita selain nasi, tahu, dan tempe, gandum yang merupakan bahan baku mi instan merupakan produk impor. Padahal, Indonesia mestinya berswasembada pangan mengingat potensi agrarisnya yang begitu menjanjikan.
Pertama, ketersediaan lahan pertanian yang luas. Indonesia memiliki lahan pertanian lebih kurang 30 juta hektar (Departemen Pertanian, 2009). Kedua, ketersediaan air yang melimpah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat curah hujan di Indonesia sangat tinggi, rata-rata 2.000-3.000 milimeter per tahun.

Kamis, 05 Mei 2011

Negeri Kaya yang "Miskin"


Selasa, 31 Agustus 2010 | 03:10 WIB

Oleh Singgih Widagdo
Rencana PT PLN mengimpor 9 juta ton batu bara pada 2011 mempertegas bahwa negeri ini dikelola dengan tidak benar, terutama sumber daya alamnya.
Restu Menteri BUMN terhadap rencana PLN menusuk hati rakyat yang jelas-jelas secara filosofis pemilik kekayaan alam negeri ini. Apa pun alasan impor, sulit diterima akal sehat. Kalau toh Dahlan Iskan, orang nomor satu di PLN, tetap mengupayakan impor karena alasan tertentu, pemerintah mesti berjuang menghentikan. Restu Menteri BUMN mengimpor batu bara sama saja menyamakan batu bara dengan komoditas lain. Batu bara harus dipandang sebagai energi, bukan sekadar komoditas dagang.
Keliru sekali keputusan impor batu bara disamakan dengan kebijakan serupa di China dan India. Kedua negara itu punya tingkat kebutuhan batu bara di atas tingkat produksi. Dengan impor dan bahkan memperluas jangkauan melalui investasi tambang batu bara di negara kita, mereka dapat dibilang smart mengelola energi dalam negeri. Sebaliknya, rencana kita impor dari Australia membuktikan salah urus negara ini dalam mengelola energi.

Minggu, 01 Mei 2011

Indonesia Inc dan Kompetisi Global

Kompas Kamis, 19 Agustus 2010 | 03:00 WIB

Irwan Julianto
Tema diskusi menyambut Hari Kebangkitan Nasional bulan Mei yang lalu kiranya masih relevan dan ada benang merahnya ketika kita baru saja merayakan peringatan Hari Kemerdekaan Ke-65 Republik Indonesia dua hari lalu.
Sejatinya, negara ini, baik penyelenggara maupun masyarakatnya, harus menyatukan segenap daya dan upaya untuk mewujudkan suatu ”Indonesia Incorporated”, yaitu mengubah secara radikal posisi Indonesia yang kini lebih sebagai negara konsumen ketimbang negara produsen di percaturan global.

Negeri yang Lupa Investasi Sosial

Kompas Rabu, 18 Agustus 2010 | 03:06 WIB

A Prasetyantoko
Beberapa hari menjelang pidato presiden di depan DPR, The New York Times (5/8/2010) menurunkan berita impresif tentang Indonesia. Tidakkah kita bangga, harian terkemuka itu menyebut Indonesia sebagai perekonomian terbesar kawasan Asia Tenggara yang layak dijadikan ”model”? 

RAPBN 2011 Tidak "Nendang"


Kompas Rabu, 18 Agustus 2010 | 03:04 WIB

A Tony Prasetiantono
Semula saya sangat senang mendengar pernyataan Ketua DPR Marzuki Alie dalam sambutannya menjelang pidato pengantar Nota Keuangan dan RAPBN 2011, bahwa pemerintah perlu menaruh perhatian terhadap pembangunan infrastruktur agar bisa membantu peningkatan efisiensi di bidang ekonomi (16/8/2010).
Optimisme saya kian kuat tatkala pidato Presiden Yudhoyono juga mengemukakan hal yang sama, bahwa pembangunan infrastruktur sangat penting. Namun, tak lama kemudian saya menyadari, itu semua ternyata cuma sebatas wacana. Baru menjadi kesadaran, visi, dan cita-cita bersama, tetapi belum tampak komitmen kuat untuk mengupayakan implementasinya. Apa buktinya?

Selasa, 19 April 2011

Jumlah Orang Kaya Melonjak, RI Makin Makmur?

Selasa, 8 Maret 2011, 00:27 WIB
Nur Farida Ahniar

Para eksekutif muda (AP Photo/Mark Lennihan)
Pertumbuhan ekonomi tidak boleh terkonsentrasi pada kalangan tertentu.
---------------------------------------------------------------------------

VIVAnews- Jumlah penduduk yang tergolong memiliki kehidupan mapan di Indonesia ternyata mengejutkan. Riset Standard Chartered Bank menyebutkan, jumlah orang mapan atau berpenghasilan Rp240 juta-500 juta per bulan mencapai 4 juta orang.

Investor seperti Dewa

EKONOMI CINA

”Di sini ada dua yang ditakuti, yaitu polisi dan investor asing. Persoalannya, warga takut sama polisi. Sementara jika warga ada masalah dengan investor asing, warga memilih mengalah karena merasa polisi pasti akan membela pengusaha,” kata Iskandar Tanuwidjaya, Direktur Utama Great Orient Chemical (Tai Cang) Co Ltd di Shanghai.
Iskandar adalah warga Indonesia yang sudah 11 tahun bekerja di China. Ini adalah kisah serupa yang juga pernah diutarakan seorang investor asal Taiwan saat Kompas berkunjung ke China tahun 2004. Pernyataan positif para pengusaha tak kunjung berhenti.

Karakteristik China Modern

KAPITAL SOSIALIS

Kompas, Rabu, 02 Februari 2011
China adalah sebuah fenomena menarik dalam dunia modern. Tidak ada yang pernah mengerti dengan benar negara bangsa dengan peradaban terlama di dunia ini mampu menggerakkan kemajuan ekonomi mengikuti selurus asas kapitalistik yang dibungkus dengan sebutan ekonomi pasar sosialis.
Banyak yang masih mencari apa yang menjadi kekuatan penggerak di balik kemajuan yang berhasil dicapai dalam kurun 30 tahunan, menjadikan China sebagai negara yang sangat berpengaruh yang mampu melampaui keberhasilan ekonomi dan perdagangan Jepang, Jerman, Inggris, dan negara maju lain.

Optimisme Ekonomi Vs Pesimisme HAM

Kompas, Rabu, 12 Januari 2011 | 03:28 WIB

Todung Mulya Lubis
Tim ekonomi pemerintah berapat di Bogor dan menyuarakan optimisme yang luar biasa.
Menteri Koordinator Ekonomi Hatta Rajasa mengatakan, pada 2025 produk domestik bruto Indonesia akan berkisar 3,7 triliun dollar AS-4,7 triliun dollar AS, sementara pendapatan per kapita akan berkisar 12.800 dollar AS-16.160 dollar AS.

Memacu Pertumbuhan?

Kompas, Selasa, 11 Januari 2011 | 02:59 WIB

Iman Sugema
Setelah menghadapi situasi sulit sebagai akibat pengaruh krisis keuangan global, perekonomian Indonesia 2010 secara alamiah mengalami pemulihan.
Bahkan, triwulan II, pertumbuhan sempat 6,2 persen walaupun kemudian melambat ke angka 5,8 persen pada triwulan III. Pertumbuhan triwulan IV biasanya melambat lagi sehingga kita tidak bisa terlalu optimistis pertumbuhan akan di atas 6 persen. Bank Dunia bahkan menurunkan prakiraan pertumbuhan 2010 dari 6 persen menjadi 5,9 persen. Angka di kisaran 6 persen bukan tergolong pertumbuhan rendah serta antara 5,9-6,0 persen tak akan terlalu terasa berbeda bagi orang biasa seperti kita. Yang jadi masalah, angka sebesar itu sudah tak lagi dipandang prestasi menakjubkan.

RI Negara Perekonomian 18 Besar Dunia

Laporan wartawan KOMPAS.com Hindra Liu
Minggu, 2 Januari 2011 | 21:51 WIB
SHUTTERSTOCK
JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia saat ini dikatakan adalah negara perekonomian 18 besar dunia dengan nilai produk domestik bruto lebih dari 700 miliar dollar AS. Seluruh indikator ekonomi makro pada 2010 dinilai semakin stabil dan kokoh. Cadangan devisa pada Desember ini mencapai 94,7 miliar dollar AS. Sementara itu, nilai ekspor mencapai nilai tertinggi, yaitu 150 miliar dollar AS.

Dampak Ketidakseimbangan Ekonomi Global

Kompas, Senin, 20 Desember 2010 | 02:55 WIB
Indonesia serta negara-negara berkembang lainnya, yang menjalankan sistem kurs devisa mengambang, merupakan korban utama dari kebijakan moneter yang ditempuh China dan sejumlah negara maju dewasa ini untuk mengatasi ketidakseimbangan global.
Ketidakseimbangan global terjadi karena di satu pihak ada negara-negara (seperti Jerman dan China) yang mengalami surplus anggaran negara ataupun neraca pembayaran luar negeri, di lain pihak ada negara-negara (seperti Amerika Serikat dan Inggris) mengalami defisit pada keduanya. Dalam sistem keuangan global yang berlaku dewasa ini, hanya negara-negara yang mengalami defisit yang wajib melakukan penyesuaian untuk meniadakan kedua defisit tersebut. Negara-negara yang mengalami surplus tak perlu berbuat apa-apa.

Campur Tangan dan Cuci Tangan

KOLOM POLITIK-EKONOMI
Kompas, Sabtu, 20 November 2010 | 02:55 WIB

Andi Suruji
Jika kondisi pasar valuta menunjukkan tanda- tanda ketidakberesan, otoritas moneter selalu campur tangan. Manakala nilai tukar suatu mata uang terus merosot, rupiah misalnya, padahal tidak ada faktor fundamental yang mendukung tren kemerosotan itu, biasanya bank sentral melakukan langkah persuasi terlebih dahulu.
Tindakan persuasif itu biasanya dilakukan dengan cara menyampaikan kondisi terkini perekonomian yang sesungguhnya. Kondisi perekonomian merupakan salah satu dasar pergerakan nilai tukar suatu mata uang terhadap mata uang lainnya.