Tampilkan postingan dengan label Berita Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Mei 2011

Rektor UIN Syarief Hidayatullah: UT, kampus unggulan masa depan

Universitas Terbuka Bisa Jadi Kampus Masa Depan
MI/Adam Dwi Putra/wt
TANGERANG - Universitas Terbuka (UT) dinilai Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat akan menjadi kampus masa depan. Sebab, ke depan model pendidikan jarak jauh akan menjadi tren sekaligus pilihan masyarakat.
"Terlebih lagi bagi masyarakat yang tidak memiliki waktu untuk belajar tatap muka dan jarak tempuh ke perguruan tinggi jauh, maka UT pilihan yang tepat. Karena itu, ke depan perguruan tinggi lain, baik itu negeri maupun swasta harus mengikuti model yang dikembangkan UT," jelas Komaruddin pada seminar nasional bertepatan wisuda UT periode I 2011 di Kampus UT Pondok Cabe, Senin (4/4).

Baru 78 Perguruan Tinggi Lolos

Kompas, Sabtu, 23 Oktober 2010 | 04:29 WIB

JAKARTA, KOMPAS - Dunia kerja sekarang mengharuskan ijazah dengan program studi yang terakreditasi. Jika tidak, kecil peluang bisa diterima bekerja. Karena itu, calon mahasiswa harus hati-hati dalam memilih perguruan tinggi agar tak kecewa di kemudian hari.

Mendiknas Genjot Potensi Universitas Terbuka

Universitas Terbuka Bisa Jadi Kampus Masa Depan
MI/Adam Dwi Putra/wt
JAKARTA – Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) melirik potensi yang dimiliki oleh Universitas Terbuka (UT). Perguruan tinggi yang menerapkan sistem belajar jarak jauh (distance learning). Jumlah dan kualitas Universitas Terbuka (www.ut.ac.id) bakal ditingkatkan untuk menggenjot angka partisipasi kasar (APK) mahasiswa. Target Kemendiknas, APK pada 2014-2015 sebesar 30 persen.
Mendiknas M. Nuh menjelaskan, dirinya memang sedang membidik Universitas Terbuka (www.ut.ac.id). Menurut dia, keberadaan Universitas Terbuka (www.ut.ac.id) bisa mengatasi minimnya penyebaran perguruan tinggi. Dengan adanya Universitas Terbuka (www.ut.ac.id) tersebut, bisa mengatasi persoalan pembangunan perguruan tinggi konvensional.

Universitas Terbuka Bisa Jadi Kampus Masa Depan

Rabu, 06 April 2011 07:36 WIB 

Universitas Terbuka Bisa Jadi Kampus Masa Depan
MI/Adam Dwi Putra/wt

JAKARTA--MICOM: Universitas Terbuka (UT) dapat menjadi kampus masa depan bagi bangsa Indonesia. Sebab, berbagai bahan studi untuk menyebarkan pengetahuan dan informasi di kampus itu, mengandalkan teknologi informatika yang paling mutakhir, yakni tekhnologi jarak jauh (long distance).

''UT sangat potensial dalam mengandalkan pendidikan dengan penyebaran informasi jarak jauh (long distance learning). Ini memudahkan orang-orang yang tidak sempat belajar secara tatap muka/formal, lewat UT,'' ujar Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat di sela-sela acara wisuda UT, periode I/2011, di Kampus UT, Pondok Cabe, Tangerang, Selasa (5/4).

Kamis, 05 Mei 2011

Memuliakan Kehidupan Bangsa


Kompas Senin, 3 Mei 2010 | 04:45 WIB

Mochtar Buchori
Menurut sebuah aliran pedagogik, mendidik adalah upaya membimbing peserta didik untuk dapat menjalani dan memahami kehidupan. Dalam kerangka ini, ada tiga tujuan yang harus dicapai para anak didik: kemampuan untuk dapat menghidupi diri sendiri, kemampuan untuk dapat hidup secara bermakna, dan kemampuan untuk dapat turut memuliakan kehidupan.
Untuk mencapai ketiga tujuan, para anak didik harus menjalani pendidikan yang berat. Mereka harus mengikuti program pendidikan yang mencakup tiga komponen utama: menguasai sejumlah pengetahuan, sejumlah keterampilan, dan memahami arti kearifan bagi kehidupan.

Memantapkan Kinerja Pendidikan

Kompas, Senin, 3 Mei 2010 | 04:47 WIB

Ki Supriyoko
Tidaklah keliru kalau kinerja pendidikan suatu negara dapat dilihat dari prestasi siswa: semakin bagus prestasinya, semakin memadai kinerja pendidikan. Tidak keliru pula kalau prestasi siswa sangat bergantung pada profesionalisme guru: semakin profesional guru, semakin bagus pula prestasi siswa.
Logika di atas mengantarkan kita pada sebuah realitas bahwa profesionalisme guru secara tidak langsung sangat menentukan kinerja pendidikan nasional.
Maka, untuk memantapkan kinerja pendidikan nasional, perlu peningkatan profesionalisme guru. Kalau kinerja pendidikan nasional masih jauh dari mantap, hal itu disebabkan belum profesionalnya para guru.
Profesionalisme guru memang menjadi problematika serius di Indonesia. Di tengah perkembangan informasi yang begitu mudah diakses di internet, ternyata masih banyak guru yang materi mengajarnya sudah kedaluwarsa. Lebih memprihatinkan lagi, saat berbagai teknologi komunikasi tersedia lengkap, ternyata masih banyak guru yang metode mengajarnya ketinggalan zaman, baik di tingkat pendidikan dasar, menengah, maupun tinggi.

Tips Mengerjakan Tes Potensi Akademik

 
Image: corbis.com
Image: corbis.com
HARI pertama ujian tulis Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) akan mengujikan Tes Potensi Akademik (TPA). Sebagai tes yang mengandalkan kemampuan alamiah peserta, TPA bisa dilatih, meski tidak bisa dihafalkan.

Yuk, simak tips mengerjakan TPA seperti yang dilansir situs snmptn.or.id, Rabu (4/5/2011).

1. Rutin berlatih
Seperti halnya tes bidang studi prediktif (TBSP), kamu juga bisa berlatih soal-soal TPA sesering dan sebanyak mungkin. Latihan akan membuatmu akrab dengan berbagai jenis dan model soal. Kemampuan analisamu juga akan meningkat melalui berbagai latihan tersebut.  

Senin, 18 April 2011

Profesor termuda di AS adalah WARGA NEGARA INDONESIA


Nelson Tansu meraih gelar Profesor di bidang Electrical Engineering di Amerika sebelum berusia 30 tahun. Karena last name-nya mirip nama Jepang, banyak petinggi Jepang yang mengajaknya “pulang ke Jepang” untuk membangun Jepang. Tapi Prof. Tansu mengatakan kalau dia adalah pemegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila. Namun demikian, ia belum mau pulang ke Indonesia. Kenapa?
Nelson Tansu lahir di Medan, 20 October 1977. Lulusan terbaik dari SMA Sutomo 1 Medan. Pernah menjadi finalis team Indonesia di Olimpiade Fisika. Meraih gelar Sarjana dari Wisconsin University pada bidang Applied Mathematics, Electrical Engineering and Physics (AMEP) yang ditempuhnya hanya dalam 2 tahun 9 bulan, dan dengan predikat Summa Cum Laude. Kemudian meraih gelar Master pada bidang yang sama, dan meraih gelar Doktor (Ph.D) di bidang Electrical Engineering pada usia 26 tahun. Ia mengaku orang tuanya hanya membiayai-nya hingga sarjana saja. Selebihnya, ia dapat dari beasiswa hingga meraih gelar Doktorat. Dia juga merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi Profesor di Lehigh University tempatnya bekerja sekarang.

Tak Selamanya Kami Jadi Pembantu

PEKERJA MIGRAN

Kompas, Senin, 31 Januari 2011


KOMPAS/HAMZIRWAN
Sejumlah tenaga kerja Indonesia asyik belajar menggunakan laptop untuk mengakses bahan perkuliahan Jurusan Penerjemahan Bahasa Inggris Universitas Terbuka di gedung Sekolah Indonesia Singapura, Singapura, Minggu (23/1).

Oleh Hamzirwan
Halimah (29) dan Erika (25) bertahan di kelas di kompleks Sekolah Indonesia di Singapura, Minggu (23/1) siang. Mereka asyik dengan komputer jinjing mereka, antara lain mengecek informasi dari Universitas Terbuka, tempat mereka kuliah.

Tiga Perguruan Tinggi Indonesia Tempati 100 Besar Ranking Dunia

Jumat, 21/01/2011 08:17 WIB
 
Adi Nugroho - detikNews


Jakarta - Tiga Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia berhasil menempati ranking 100 besar dunia dalam pemeringkatan Repositori Institusional Periode Januari 2011 versi webometrics. Ketiga PTN itu adalah Institut Teknologi Sepuloh November (ITS) Surabaya, Universitas Diponegoro (UNDIP) dan Universitas Sumatra Utara (USU).

Membangun Karakter Lewat Humanisasi Pendidikan

Kompas, Sabtu, 8 Januari 2011 | 03:07 WIB

Oleh Satryo Soemantri Brodjonegoro
Persoalan yang dihadapi bangsa ini dari hari ke hari makin banyak tanpa ada titik terang penyelesaiannya. Semua lini kehidupan mengalami persoalan dan cobaan yang tak habis-habisnya, bahkan makin parah.
Sektor keuangan, pendidikan, transportasi, olahraga, politik, tata kelola, kehakiman, hukum, peraturan perundangan, perindustrian, kejaksaan, kepolisian, perbankan, dan banyak sektor lain telah didera persoalan yang sangat mendasar: terjadi penyalahgunaan atau kesalahan fungsi dan kewenangan. Akibatnya, semua kebijakan yang ditempuh tak propublik, tetapi justru menyulitkan dan membebani serta menyengsarakan warga.

Pendidikan Transaksional

Kompas, Rabu, 5 Januari 2011 | 03:29 WIB

Oleh Ki Supriyoko
Ketika menjadi narasumber dalam diskusi akhir tahun di Megawati Institute Jakarta, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD mengaktualisasi terminologi ”politik transaksional”. Politik tidak lagi jadi alat mengabdi kepada masyarakat, tetapi digunakan untuk kepentingan sesaat.
Para politisi di negara kita kerap membuat kebijakan dan peraturan perundangan demi kepentingan sempit dan sesaat sehingga sering melanggar UUD.

University Ranking: Harvard, UI, UGM, Oxford, NUS, MONASH, dll

CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Harry Lukman - Washington, D.C.

Dear KOKIERS,


“Sekolah ke LN” sampai saat ini masih merupakan sesuatu yang exclusive bagi pelajar dan mahasiswa/mahasiswi Indonesia. Umumnya mereka masih SILAU dengan semua yang berbau LN, dari lulusan LN, barang-barang LN semua itu cenderung untuk di DEWAKAN!
Tetapi apakah benar sekolah di LN selalu lebih bagus dari pada sekolah di dalam negeri? Marilah kita tengok dengan mengupas sekolah2x di LN dari yang Ivy League colleges seperti Harvard, Yale and Princeton di USA, sampai sekolah2x di LN yang begitu akrab di telinga orang Indonesia seperti UCLA di USA, MONASH di Australia dan Nanyang di Singapore.

Ilmuwan Minus Penelitian

Kompas, Senin, 20 Desember 2010 | 02:59 WIB

SAIFUR ROHMAN
Survei SCImago melaporkan, publikasi hasil penelitian Indonesia selama 13 tahun (1996-2008) adalah 9.194 tulisan. Angka itu menempatkan negeri ini di urutan ke-64 dari 234 negara yang disurvei. Dibanding negara tetangga, Singapura berada pada peringkat ke-31, Thailand ke-42, dan Malaysia 48.
Data itu tidak signifikan dengan jumlah peneliti di perguruan tinggi yang mencapai 89.022 orang. Menurut Kementerian Pendidikan Nasional, peneliti berpendidikan magister mencapai 71.489 orang, doktor 13.033 orang, dan guru besar 4.500 orang. Jika mengacu data SCImago, berarti dalam rentang lebih dari 10 tahun hanya ada satu dari 10 dosen yang menerbitkan hasil penelitian. Jika interval dipersempit dalam rentang satu tahun, jelas persentase itu sepuluh kali lebih sedikit.

Mengembalikan Kehormatan Guru

Kompas, Jumat, 26 November 2010 | 03:42 WIB

Oleh Doni Koesoema A
Tak pernah ada dalam sejarah bangsa ini profesi guru begitu terpuruk di mata masyarakat seperti saat ini.
Seringnya guru mogok mengajar karena berdemonstrasi, citra guru yang rusak karena tuntutan ujian nasional, dan kebijakan pendidikan yang abai terhadap pengembangan profesional guru hanya beberapa kenyataan yang menunjukkan betapa kehormatan guru telah hilang. Mengembalikan kehormatan guru tak lagi bisa ditawar untuk menyelamatkan masa depan negeri ini. Tugas itu tak ringan dan memerlukan kerja sama banyak pihak sesuai cakupan tanggung jawab mereka. Hanya dengan pendekatan utuh dan sinergilah, kita dapat mengembalikan kehormatan guru.

Sertifikasi Guru

Kompas, Rabu, 24 November 2010 | 02:56 WIB

Oleh Waras Kamdi
Fenomena kecurangan dalam pelaksanaan Sertifikasi Guru Dalam-Jabatan lewat Portofolio kian menguak apa yang sesungguhnya telah jadi rahasia umum.
Terungkapnya kasus plagiasi 1.700 guru di Riau menunjukkan sebagian kecil dari kecurangan dalam memenuhi portofolio sertifikasi guru. Banyak masyarakat yang merisaukan aneka pelanggaran itu, tetapi program sertifikasi terus saja melaju atas nama pemenuhan amanat peraturan perundang-undangan.

Universitas yang Tidur dalam Kemewahan

PENDIDIKAN TINGGI

Kompas, Sabtu, 20 November 2010 | 03:55 WIB

WANNOFRI SAMRY
Paling tidak lima tahun terakhir universitas-universitas di Indonesia secara serentak menslogankan ”universitas kelas dunia” seperti nyanyi vokal yang tidak jelas bunyi awal dan akhirnya. Bunyi nyanyi itu indah didengar dan dibayangkan, tetapi buruk dilihat dan pahit dirasakan. Realitasnya, universitas-universitas di Indonesia tidak pernah menduduki peringkat puncak di Asia, bahkan di Asia Tenggara.

Mengatasi Penganggur Akademik

Kompas, Senin, 4 Oktober 2010 | 10:10 WIB

Razali Ritonga
Di tengah rendah-nya kualitas pekerja di Tanah Air, ternyata masih banyak penduduk berkualitas dengan pendidikan tinggi yang tidak bekerja.
Tidak kurang dari dua juta lulusan perguruan tinggi dengan aneka jenjang pendidikan diperkirakan menjadi penganggur (Kompas, 27/9/2010).

Nilai Ekonomi Selembar Ijazah Palsu

JAJAK PENDAPAT "KOMPAS"

Kompas, Jumat, 1 Oktober 2010 | 04:58 WIB

Oleh Palupi Panca Astuti
Motivasi ekonomi yang bertemu dengan sikap pragmatis dan lemahnya pengawasan telah memicu berbagai praktik tidak terpuji mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akhir.
Sekitar lima tahun lalu pemberitaan media diramaikan kasus terbongkarnya institut ”abal-abal” yang mengaku berafiliasi dengan sejumlah perguruan tinggi luar negeri yang sebenarnya adalah praktik menjual gelar akademik palsu.

Pendidikan Dasar Tak Merata

Kompas, Rabu, 29 September 2010 | 03:35 WIB

Jakarta, Kompas - Di tengah klaim pemerintah atas pencapaian MDGs bidang pendidikan dasar yang semakin dekat pada target, pemerataan akses pendidikan juga dipertanyakan. Mencuat juga keraguan terhadap relevansinya dengan mutu pendidikan.
Selain itu juga dipertanyakan kontribusinya untuk membuat anak-anak bangsa mampu ”bertahan hidup” dalam perubahan zaman.